Rabu, 28 November 2012

industri baterai


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
   Ilmu bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan terorganisasi yang diperoleh lewat proses tersebut. Proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematis tentang suatu sistem Perolehan sistematis ini umumnya berupa metode ilmiah, dan sistem tersebut umumnya adalah alam semesta. Dalam pengertian ini, ilmu sering disebut sebagai sains.
Di era globalisasi ini, ilmu sains berperan dalam teknologi dan informasi bagi kehidupan manusia. Karena teknologi dan informasilah jarak seolah tak menjadi halangan. Manusia dapat berkomunikasi dengan mudahnya dalam jarak yang jauh. Hal itu tidak biasa lepas dari perkembangan teknologi dan informasi. Dalam kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi dan informasi ini, muncullah berbagai macam teknologi-teknologi yang memungkinkan kita untuk dengan mudahnya membawa berbagai macam alat yang biasa dibawa kemana-mana, seperti laptop, handphone, mp3 player, dan sebagainya. Hal tersebut memungkinkan karena adanya baterai yang berfungsi untuk menyuplai daya yang dibutuhkan oleh peralatan portable tersebut. Pada perkembangannya para ilmuwan membuat konsep agar baterai tersebut biasa digunakan untuk sumber tenaga dalam pembuatan kendaraan listrik dan hibrida (ramah lingkungan).
Tim penulis akan mencoba menerangkan tentang Kadmium, Lithium dan aplikasinya, yaitu baterai  Nikel-Kadmium danLithium-Ion dalam perkembangannya yang dipakai pada banyak peralatan listik portable.





BAB II
ISI
2.1 Pengertian Baterai
Baterai adalah alat listrik kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkan tenaganya dalam bentuk listrik. Sebuah baterai biasanya terdiri dari 3 komponen penting, yaitu:
1. Batang karbon, sebagai anoda (kutub positif baterai)
2. Seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai)
3. Pasta sebagai elektrolit (penghantar)
   Baterai yang biasa dijual (disposible atau sekali pakai) mempunyai tegangan listrik 1,5 volt. baterai ada yang berbentuk tabung atau kotak. Ada juga yang dinamakan rechargeable  battery, yaitu baterai yang dapat diisi ulang, seperti yang biasa terdapat pada telpon genggam.
Baterai merupakan elemen elektrokimia primer, dan sebenarnya merupakan elemen Leaclanche  kering dengan elektrolit pasta ammonium klorida (NH4Cl) yang dicampur dengan seng klorida (ZnCl4), serbuk kayu, tepung, atau getah. Setiap sel mempunyai GGL 1,5 volt. Baterai biasanya digunakan sebagai lampu senter, radio transitor, jam dinding, dan lain-lain.
Baterai sekali pakai disebut juga dengan baterai primer, sedangkan baterai isi ulang disebut dengan baterai sekunder. Baik baterai primer maupun baterai sekunder, kedua-duanya bersifat mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Baterai primer hanya bisa dipakai sekali, karena menggunakan reaksi kimia yang bersifat tidak bisa balik (irreversible reaction). Sedangkan baterai sekunder dapat diisi ulang karena reaksi kimianya bersifat dapat dibalik (reversible reaction).




2.2 Tipe-tipe Baterai
            Berbagai tipe baterai menggunakan berbagai macam bahan kimia dan reaksi kimia. Beberapa tipe baterai yang umum dikenal adalah :
2.2.1 Alkaline
Alkaline adalah jenis baterai yang paling umum ditemukan. Baterai yang harganya murah dan dayanya habis dalam sekali pakai ini bisa mendayai Game Boy selama 20 menit (atau 2,5 menit pada Sega Nomad).
Kerapatan energi, jumlah daya yang dikandung baterai Alkaline tidak buruk, tetapi pada gadget yang haus energi seperti MP3 player atau kamera digital, daya baterai ini cepat terkuras habis. Namun untuk gadget yang tidak tinggi tuntutan dayanya, baterai Alkaline bisa bertahan lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Namun, baterai ini tidak bisa diisi ulang.

2.2.2 Silver oxide atau baterai silver-zinc
Menyediakan cukup banyak daya dan tahan lama. Baterai tipe ini dipakai dalam jam tangan dan juga mainan anak-anak, maupun di torpedo dan kapal selam, atau perangkat lain yang mementingkan kinerja, bukan harga. Kelemahannya, perak yang digunakannya mahal jika ukuran baterai lebih besar daripada kancing yang dipakai pada gadget. Selain itu, di akhir masa pakainya baterai ini seringkali bocor dan lelehan merkuri-nya berbahaya.

2.2.3 Baterai Lead-acid
Terdiri dari dua tipe besar: baterai pemicu seperti yang ada di mobil dan dirancang untuk lonjakan daya singkat; dan baterai bersiklus panjang yang memberikan daya yang lebih rendah, lebih ajek dan digunakan di kapal, mobil golf, dan sebagai daya cadangan di berbagai gadget.

2.2.4 Baterai Alkaline Isi Ulang (rechargeable)
Mirip baterai Alkaline biasa, tetapi dibuat agar bisa diisi ulang – artinya membuat elektron-elektron dipompa masuk kembali ke dalam baterai. Tidak sepeti baterai Nickel metal hydride, baterai ini tidak habis dayanya bila tidak dipakai, tetapi kapasitasnya berkurang setiap kali diisi ulang dan tidak setinggi baterai Alkaline biasa.

2.2.5 Nickel Cadmium (NiCad)
Baterai ini merupakan jenis tertua, paling tahan banting, namun berat dan volumenya paling besar. Baterai jenis ini sudah tidak lagi banyak digunakan pada gadget karena dianggap tidak praktis. Baterai NiCad sangat rentan efek memori. Maksudnya, baterai hanya mengisi ke tingkat dimana baterai terakhir di-discharge, akibat proses akumulasi gas yang terperangkap dalam plat sel baterai. Jika baterai di-discharge hingga 30 persen dan di recharge, maka baterai hanya akan mengisi energi yang terpakai tadi (30 persen) yang dilanjutkan dengan penyusutan volume "gas" yang terperangkap. Cara terbaik untuk menghilangkan efek memori dan membuang sisa gas terperangkap adalah dengan melakukan "burping", atau mengkondisikannya. Maksudnya, menghabiskan seluruh isi baterai pada gadget hingga benar-benar mati dan melakukan re-charging. Selain itu kendati tidak dipakai, baterai akan kehabisan seluruh dayanya setelah sekitar 90 hari.
2.2.6 Nickel metal hydride (NiMH)
Menggantikan kadmium dalam NiCad dengan campuran yang membuatnya mampu menahan lebih banyak energi (40%) pada ruang yang sama dibandingkan NiCad. NiMH merupakan pengembangan dari NiCd, dibanding NiCd dengan volume sama, kapasitasnya jauh lebih besar. Namun, seperti halnya NiCd, NiMH juga rawan terhadap memory effect meski tidak sebesar NiCd. Beberapa produsen baterai bahkan menyatakan NiMH produknya bebas memory effect. Seperti Sanyo eneloop, daya yang ada perlahan-lahan akan habis walaupun baterai tidak dipakai. Fenomena ini muncul saat baterai yang belum habis dipakai sudah di-charge ulang. Bila dilakukan berkali-kali baterai dapat kehilangan kapasitasnya dan hanya mampu menampung sedikit daya saja sebelum dengan cepat habis. Memory effect dapat dihilangkan dengan mengosongkan baterai sampai habis sebelum mengisi ulang.
Setiap 10-15 kali siklus isi ulang baterai NiMH, kosongkanlah baterai hingga habis sama sekali sebelum mengisi ulang. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan "bibit-bibit" memory effect yang mungkin timbul.
Jangan sekali-kali mengosongkan baterai dengan bola lampu dan kabel hingga lampu mati. Ini akan dapat merusak sel baterai yang paling lemah (reversal effect), dan pada gilirannya merusak semua sel. Sisakan setidaknya 1V per sel baterai, pantaulah terus-menerus karena voltase baterai akan turun dengan tiba-tiba. Bila Anda tidak memiliki alat untuk itu, lebih baik jangan lakukan. Mengosongkan dengan gadget adalah cara terbaik, karena ambang batas aman pasti tidak kelebihan.
Beberapa produsen baterai NiMH menyatakan bahwa baterainya bisa di recharge lebih dari 500 kali, namun bila baterai NiMH telah mencapai 400 kali siklus isi ulang, perlu dipersiapkan untuk penggantian baterai tersebut, karena walaupun masih bisa digunakan, biasanya kapasitasnya sudah menurun dan berarti masa pakai sebelum diisi ulang sudah berkurang.. Baterai Li-ion dapat rusak dengan mendadak jika rangkaian di dalamnya rusak.
Untuk membuang baterai yang sudah tidak digunakan, sebaiknya berhati-hati karena kandungan kadmiumnya bisa mencemari tanah

2.2.7 Lithium ion (Li-ion)
Menjadi baterai standar pada gadget masa kini. Dibandingkan baterai dengan bahan nikel, Li-Ion lebih efisien energi dan tidak memiliki efek memori, tetapi juga lebih mahal harganya. Namun baterai tipe ini tidak boleh dibuang sembarangan karena bisa meledak (walaupun hanya terjadi beberapa kali per satu juta baterai). Dibandingkan NiMH, siklus isi ulang baterai Li-ion lebih pendek setengahnya ( 1000 vs. 500 kali).
Ada kelemahan lain. Jika daya baterai benar-benar habis dan voltase-nya turun di bawah ambang tertentu, kapasitas energi baterai Li-ion akan menciut secara permanen. Karena itulah baterai dirancang untuk mati jika dipasang setelah waktu tertentu. Biasanya, jika Anda punya gadget dengan baterai bertipe isi ulang, tipe Li-Ion-lah yang dipakai. Jika tidak, mungkin baterainya berjenis Li-Poly.
2.2.8 Lithium ion poly atau lithium poly atau li-poly (Li-Po)
Berasal dari lithium ion tetapi menggunakan elektrolit berbasis polimer gel. Karena itu namanya menjadi lithium ion poly. Baterai tipe ini lebih bandel (tidak mudah meledak) dibandingkan Li-ion standar, lebih ringan dan bisa dibentuk sesuka hati. Anda akan semakin sering menjumpainya sebagai pengganti lithium-ion di laptop dan gadget lain. Kelemahannya, baterai ini lebih cepat habis dibandingkan Li-ion biasa.

2.2.9 Lithium iron phosphate (Li-Fe)
Merupakan perkembangan dari lithium ion yang menggantikan campuran oksida kobalt dalam li-ion. Tipe ini lebih kecil kemungkinannya meledak dan dapat melepaskan kapasitas dan terisi ulang sangat cepat. Namun sampai saat ini lithium iron phosphate masih mahal dan rumit pembuatannya. Baterai ini biasanya terdapat  di laptop OLPC XO dan mobil hibrida.
Salah satu yang perlu diperhatikan pada penggunaan baterai charge NiCad dan NiMH adalah 'self discharge', yaitu berkurangnya kapasitas yang terdapat pada battery walaupun tidak digunakan. Jumlah/persentasi self discharge pada masing-masing baterai berbeda-beda, tapi bisa diperkirakan sekitar beberapa persen (1 sampai 3%) perhari dari kapasitas maksimumnya dan pada suhu 70 derajat Fahrenheit.
Penempatan baterai NiMH pada temperator yang lebih rendah akan sedikit membantu mengurangi efek self discharge. Ada yang menyebutkan apabila baterai NiMH dibekukan (dingin) dalam 1 bulan sisa kapasitas baterai masih ada 90% sejak terakhir di recharge. Tapi sebelum digunakan, baterai NiMH yang dibekukan tersebut harus dikembalikan dulu pada suhu ruangan yang normal. Jadi setelah kita men-charge baterai NiMH, sebaiknya disimpan pada suhu yang dingin untuk mengurangi efek self dischargenya.
Disarankan untuk me-recharge lagi baterai yang sudah disimpan dalam jangka waktu yang lama sebelum di gunakan. Berbeda dengan baterai Alkaline, jika baterai Alkaline disimpan pada suhu ruang normal, efek self discharge yang terjadi kurang dari 2% per tahun. Sehingga walaupun disimpan dalam jangka waktu yang lama, kapasitas baterai Alkaline nyaris tidak akan berkurang dari semula. Sebagai catatan, jika baterai Alkaline disimpan pada suhu 85 derajat Fahrenheit, efek self discharge hanya sekitar 5% pertahun, tapi pada 100 derajat Fahrenheit, efek self discharge baterai Alkalin sekitar 25% pertahun. Jadi apabila kita tinggal pada lokasi yang cuacanya sangat panas, disarankan untuk menyimpan baterai Alkalin pada ruang pendingin untuk menghindari efek selft discharge, walaupun persentasinya sangat kecil sekali dibandingkan efek self discharge pada baterai NiMH dalam kondisi suhu yang sama.
Baterai Lithium juga hampir sama dengan baterai Alkaline, efek self dischargenya sangat kecil dibandingkan dengan baterai NiMH, sehingga jika kita charge penuh dan disimpan pada suhu ruang normal pada waktu yang lama, kapasitanya juga tidak akan banyak berkurang. Tapi sampai saat ini untuk ketiga jenis baterai tersebut (Alkaline, NiMH, dan Lithium) baterai NiMH harganya memang lebih murah dibanding yang lainnya.

2.3 Prinsip Kerja Baterai
            Prinsip kerja baterai memanfaatkan reduksi dan oksidasi untuk menghasilkan listrik pada kedua elektrodanya.  Pada umumnya, Katoda dan Anoda terdiri dari dua bagian, yaitu material aktif sebagai tempat keluar masuknya ion dan Pengumpul electron sebagai collector current. Ketika Anoda dan Katoda terhubung maka electron akan mengalir dari Anoda menuju Katoda, maka listrik pun akan mulai mengalir. Dibagian dalam baterai terjadi sebuah proses pelepasan Ion pada Anoda, kemudian Ion tersebut akan berpindah menuju Katoda melalui Elektrolit. Pada katoda terjadi reaksi reduksi, hal ini dikarenakan adanya elektron dan ion yang masuk dari Anoda. Untuk Proses pengisian baterai, berbanding terbalik dari proses ini.

2.4 Proses Pembuatan Baterai
2.4.1 Cara Pembuatan Baterai Alkalin (Baterai Primer)
KATODA
 1. Dalam baterai alkaline, katoda sebenernya menjadi wadah. Pencampuran bahan adalah merupakan langkah pertama dalam pembuatan baterai. Setelah granulasi, campuran kemudian ditekan atau dipadatkan ke-preforms silinder berongga. Caranya sebuah pukulan baja turun ke rongga dan memadatkan campuran.Campuran tersebut kemudian dipadatkan ke dalam silinder berongga dan dibuat menjadi kepingan.
Description: C:\Documents and Settings\Microsoft\My Documents\industri\sosis\4562715_files\hpm_0000_0001_0_img0033.jpg
2. Preforms yang selanjutnya dimasukkan ke dalam baja berlapis nikel; kombinasi preforms dan baja dapat membuat katoda baterai.

SEKAT PEMISAH
3. Kertas Pemisah direndam dalam larutan elektrolit kemudian dimasukkan dalam preforms; pemisah terbuat dari beberapa potong kertas diletakkan di crossgrains satu sama lain (seperti kayu lapis). Pemisah akan menahan bahan katoda dari sentuhan dengan bahan anoda. Sebagai alternatif, produsen mungkin menggunakan serat sintetis porus untuk tujuan yang sama.

ANODA
4. Berupa gel terutama terdiri dari serbuk seng, bersama dengan bahan lainnya termasuk elektrolit kalium hidroksida. Gel ini memiliki konsistensi yang sangat tebal serupa suspense

SEALS
5. Meskipun baterai mampu menghasilkan listrik pada titik ini, sel yang terbuka adalah tidak praktis dan akan menguras energi. Baterai harus disegel dengan tiga komponen yang terhubung. Yang pertama, kuningan sebuah "kuku" atau spike panjang, dimasukkan ke tengah, melalui bahan gel dan berfungsi sebagai arus kolektor. Yang kedua adalah segel plastik dan tutup akhir ketiga logam. yang memanjang sekitar dua-pertiga wadah. Anoda di tengah adalah gel terdiri terutama dari bubuk seng. Pemisah antara anoda dan katoda adalah baik kertas atau serat sintetis yang telah direndam dalam larutan elektrolit. Dalam baterai komplit, sebuah segel plastik, paku baja, dan logam atas dan bawah telah ditambahkan. kuku adalah dilas ke dasar logam dan memanjang sekitar dua-pertiga dari jalan ke bisa, melalui anoda. jalan ke dalam bisa, dilas ke ujung topi logam dan kemudian melewati segel plastic.
Description: C:\Documents and Settings\Microsoft\My Documents\industri\sosis\4562715_files\hpm_0000_0001_0_img0034.jpg
6. Segel ini secara signifikan lebih tipis dan memiliki desain baterai yang menggunakan sebuah lubang penuh lilin dalam plastic

7. Ujung kaleng (akhir positif baterai) kemudian ditutup dengan pelat baja yang baik dilas di tempat atau direkatkan dengan semen jenis epoxy.
8. Sebelum baterai dipasarkan, menambahkan label untuk mengidentifikasi jenis baterai, ukuran, dan informasi lainnya.




2.4.2 Cara Pembuatan Baterai Li-ion (Baterai Sekunder)
Baterai Li-ion diaplikasikan pada kendaraan listrik. Pembuatan baterai Li-ion dilakukan pada sebuah ruangan yang disebut sebagai dry room. Pada ruangan tersebut, temperatur dan kelembaban dijaga konstan agar tidak ada impuritas yang menempel pada baterai Li-ion. Hal ini mengingat Litium adalah metal aktif ketika bereaksi dengan air atau uap air. Litium metal digunakan sebagai katoda (kutub positif) sedangkan untuk anoda (kutub negatif) biasanya digunakan karbon atau grafit.
Pembuatan baterai Li-ion dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
1. Pembuatan bahan katoda dan elektrolit
Setelah bahan katoda dan elektrolit selesai dibuat dengan menggunakan metalurgi serbuk, bahan-bahan ini dicetak dalam bentuk lembaran melalui metode doctor blade. Dengan metode laminating sel baterai dibentuk.



 











Gambar 1. Alur Pembuatan Bahan Dasar Elektrolit dan Katoda


Reaksi kimia dalam pembuatan elektrolit LTAP
0,65 Li2CO3 + 1,7 TiO2 + 0,15 Al2O3 + 3 (NH4)2PO4 → Li1,3Ti1,7Al0,3(PO4)3 +
0,65 CO2 + 3 H2O + 6 NH3 + ¾ O2

Reaksi kimia dalam pembuatan katoda Litium Mangan Oksida
0,685 Li2CO3 + 2 MnO2 → Li1,37Mn2O4 + 0,685 CO2 + 0,3825 O2

2. Pembuatan lembaran komponen sel baterai
o   Pembuatan lembaran elektroda
Anoda Grafit
 
Lembaran elektroda dibuaat seperti proses sheet casting dari serbuk slurry dengan alat doctor blade. Kesempurnaan pelapisan akan diamati dengan metode SEM, karena hal ini akan mempengaruhi proses perpindahan ion dari/ke elektroda.
 










o   Pembuatan lembaran elektrolit

o   Pembuatan Lembaran Elektrolit
Lembaran elektrolit LTAP dibuat dengan proses extrusi dari bentuk slurry, kemudian lembaran ini disinterring sebelum proses pelapisan elektroda.


 











Gambar 3. Alur Pembuatan Lembaran Elektrolit LTAP

3. Pembuatan sel baterai litium
Lembaran-lembaran komponen sel, seperti lembaran katoda, lembaran anoda, dan lembaran elektrolit dilekatkan satu sama lain. Proses pembuatan sel ini menggunakan metode laminating dengan alat hot roll pres.



 







Gambar 4. Alur Pembuatan Sel Baterai


2.5 Dampak Penggunaan Baterai dan Penanggulangannya
Limbah baterai memang tidak boleh dibuang sembarangan. Secara umum baterai merupakan sumber pencemar. Baterai jenis tertentu seperti lithium atau nickel-cadmium tidak boleh dibuang ke tempat sampah, tetapi dikembalikan ke produsen sebagai bagian dari manajemen limbah. Sebagian besar gagdet menggunakan satu daya batarei lithium. Bila terkena air, baterai lithium bisa meledak dan memproduksi gas hidrogen yang berbahaya. Memang baterai lithium didesain tertutup sehingga kedap air. Namun jika rusak kemudian dibuang, baterai bisa mengalami korosi sehingga air bisa meresap ke dalam. Dan sangat disayangkan, baterai bekas yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3) itu, diantaranya adalah merkuri (Hg) dan kadmium, seringkali dibuang di sembarang tempat. Malah, karena ketidaktahuan mereka akan racun berbahaya tersebut, tidak sedikit pula masyarakat yang menggunakannya sebagai pupuk, semir ban mobil, cat hitam, bahan tukang kayu, kerajinan tangan, campuran plester semen, bahkan mainan anak-anak. Orang dapat saja berpendapat bahwa kandungan merkuri dalam baterai sedikit. Tapi kalau jumlah yang sedikit itu kemudian dikumpulkan, maka lambat laun akan terjadi akumulasi merkuri yang akan mencemari lingkungan.
Baterai dapat menghasilkan potensi masalah atau bahaya berikut:
-          Mencemari danau dan sungai sebagai logam menguap ke udara ketika dibakar.
-          Kontribusi logam berat yang berpotensi leach dari tempat pembuangan sampah limbah padat.
-          Paparan lingkungan dan air untuk memimpin dan asam.
-          Mengandung asam korosif yang kuat.
-          Dapat menyebabkan luka bakar atau bahaya mata dan kulit.










Di tempat pembuangan sampah, logam berat memiliki potensi untuk mencemari secara perlahan-lahan ke dalam tanah, air tanah atau permukaan. Baterai sel kering menyumbang sekitar 88 persen dari merkuri total dan 50 persen dari kadmium dalam aliran limbah padat perkotaan. Di masa lalu, baterai menyumbang hampir setengah dari merkuri yang digunakan di Amerika Serikat dan lebih dari setengah dari merkuri dan kadmium dalam aliran limbah padat perkotaan. Ketika dibakar, beberapa logam berat seperti merkuri bisa menguap dan melarikan diri ke udara, dan kadmium dan timbal dapat berakhir di abu.
                Ancaman merkuri terutama dari bentuk organiknya yang sangat beracun yaitu metil merkuri. Zat ini akan bertahan dalam tubuh 10 kali lebih lama dibanding merkuri dalam bentuk logam seperti yang terdapat dalam baterai dan termometer. Antara merkuri anorganik dan merkuri organik terdapat suatu hubungan bentuk atau transformasi. Senyawa aril merkuri (organik) dapat berubah menjai merkuri anorganik melalui proses transformasi di dalam tubuh dan lingkungan. Sedangkan merkuri anorganik, dapat menjai merkuri organik melalui proses transformasi oleh mikroorganisme. Selain itu logam berat merkuri dpat jua masuk melalui jalan pernapasan, karena sifat merkuri yang mudah menguap pada temperatur kamar. Bagi tubuh manusia, ancaman merkuri dapat menyerang sistem syaraf pusat, ginjal, hati, jaringan otak, serta dapat membahayakan kandungan yang berakibat bayi cacat lahir.
            Berdasar penelitian yang “mendalam dan hati-hati”, baterai lithium – sulfur dioksida (Li/SO2) “secara nyata dan meyakinkan” terbukti memilik karasteristik aktivitas yang berbahaya. Penanganan limbah baterai litium harus memenuhi standar manajemen limbah. Berdasarkan aturan tersebut, limbah baterai litium tak boleh dibuang dibuang ke tanah sebelum dinetralkan. Terutama jika penelitian pada sampel baterai menunjukkan setidaknya satu sifat:berada pada kondisi tidak stabil atau terlihat reaksi detonasi, bereaksi terhadap air, desain atau strukturnya berpotensi menyerap air, ketika dicampur air, menghasilkan gas beracun atau asap yang kuantitasnya membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, mengandung sianida atau sulfida yang pada PH antara 2 – 12,5 dapat menghasilkan gas atau asap beracun, berpotensi meledak jika berada pada tekanan tinggi, berpotensi meledak jika diurai pada tekanan dan suhu kamar.
            Sampai sejauh ini, hampir tidak ada upaya, baik pemerintah maupun masyarakat untuk mengumpulkan baterai bekas dengan mekanisme yang benar agar terhindar dari resiko dan dampak lingkungan yang diakibatkannya. Umumnya limbah baterai rumah tangga dibuang begitu saja oleh masyarakat ke tempat sampah. Masyarakat akan membuang sampah baterai bekas apabila disediakan tempat-tempat khusus seperti di pasar, pos keamanan, atau pun tempat lain yang strategis dekat dengan masyarakat.
Cara lain mengurangi dampak limbah baterai adalah mengadakan produksi baterai dengan kadar merkuri rendah atau logam berat lainnya seperti yang banyak dilakukan oleh negara-negara maju. Dari teknologi yang tercanggih, kini tersedia banyak baterai yang tidak lagi menggunakan merkuri. Namun di samping usaha-usaha itu semua, yang paling efektif adalah membiasakan penggunaan baterai yang dapat diisi ulang. Meskipun harganya mahal, namun dengan baterai semacam ini, jauh lebih hemat secara ekonomis. Dan yang paling penting, dengan mengisi ulang baterai berarti mengurangi limbah yang dapat mencemari lingkungan kita.













BAB III
PENUTUP
 3.1 Kesimpulan
1.      Baterai adalah alat listrik kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkan tenaganya dalam bentuk listrik.
2.      Ada beberapa tipe baterai, yaitu alkaline, silver oxide atau batere silver-zinc, batere lead-acid, rechargeable, nickel cadmium, nickel metal hydride, lithium ion, lithium ion poly, dan lithium iron phosphate.
3.      Prinsip kerja baterai memanfaatkan reduksi dan oksidasi untuk menghasilkan listrik pada kedua elektrodanya.
4.      Cara pembuatan baterai alkaline adalah dengan pencampuran bahan katoda, sekat pemisah direndam dalam larutan elektrolit kemudian dimasukkan ke dalam preforms, anode dimasukkan ke bagian tengah komponen, penyegelan komponen baterai dengan pelat baja, dan memberi label pada baterai.
5.      Cara pembuatan baterai Li-ion adalah dengan pembuatan bahan katoda dan elektrolit, pembuatan lembaran komponen sel beterai, dan pembuatan sel baterai.
6.      Penggunaan baterai mempunyai dampak untuk kesehatan dan lingkungan karena mengandung logam-logam berat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar